4/07/2015

Alumni Anak Juara Dirikan Majlis Taklim Al-Qur'an

Aktifitas di Majlis Taklim Al-Hikmah
Hikmat, Alumni Anak Juara RZ Cilegon dan pernah sekolah di SMK BIT Al-Insan ia melanjutkan pendidikan ke Pesantren Tahfidz Manba’ul Furqon di Bogor karena keterbatasan biaya akhirnya Hikmat memutuskan untuk pindah ke Pesantren Nurul Furqon di Tangerang karna tanpa dipungut biaya. Hikmat selama 1 tahun belajar sudah hafal 15 juz Al-Qur’an. Hikmat pun sering diajak oleh ustadz H. Miftahudin Al-Hafidz yang merupakan pengasuh Nurul Furqon untuk ngisi tilawah Al-Qur’an dalam acara-acara kemasyarakatan. Kebaraniannya tampil didepan umum didasari dari  seringnya tampil dipublik saat masih di MTs dan SMK yang saat itu dipercaya sebagai ketua OSIS ditambah sering mengikuti pembinaan yang diadakan oleh RZ Cilegon 2 kali dalam sebulan.

Dalam perjalanannya Hikmat mendapat kesempatan untuk belajar Al-Qur’an metode Tilawati utusan pesantren tepatnya pada tanggal 25 Januari 2014 di Surabaya.
Berbekal dari ilmu itu kemudian Hikmat memutuskan untuk pulang sekitar pertengahan tahun 2014 untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Menurutnya guru ngaji di kampungnya sangat sedikit dan dikampungnya tidak ada Madrasah Ibtidaiyah itulah sebabnya Hikmat merasa terpanggil. “Berdakwah tidak harus jadi kyai dulu” katanya. Sesuai dengan moto hidupnya yaitu “Pergi Mencari Pulang Memberi”.

Awal Pendirian Majlis Taklim

Sepulang dari pesantren Hikmat langsung mengaplikasikan ilmu yang ia perolah dari pesantren kepada keponakannya yang berjumlah 3 orang. Bermula dari 3 keponakannya itulah  ibarat besi tertarik oleh Magnet, banyak orang tua yang mempercayakan anaknya untuk belajar mengaji ke Hikmat.
Awalnya sih, hanya ngajari 3 orang keponakan mungkin mereka cerita ke teman-temannya sampai akhirnya banyak yang bergabung untuk mengaji disini. Aku Hikmat
Anak-anak pada kesenangan belajar disini karena metode tilawati sangat  mudah dipahami dan ada lagunya  yang membuat mereka tidak jenuh. Lanjutnya.

Saat tulisan ini dibuat tercatat santri yang mendaftar sudah mencapai 40 anak kebanyakan dari mereka masih  jenjang SD dan ada juga yang SMA.
Semakin banyaknya santri yang ikut belajar Al-Qur’an pada Hikmat di rumahnya yang sempit, menjadi awal mula timbulnya keinginan untuk membangun sebuah Majlis Taklim di teras rumahnya. Hikmat pun segera merembukkan dengan keluarga dan tokoh Masyarakat setempat. Niat baik Hikmat disambut baik oleh keluarga dan tokoh Masyarakat.

Tanpa adanya dana yang memadai boleh dikatakan hanya bermodal niat dan keinginan yang kuat saja. Bismillah, hikmat pun mulai membangun Majlis Taklim dengan modal awal dari Ibunya yang sehari-hari berjualan makanan ringan di Sekolah dekat rumahnya itu, ibunya rela menjual kalung emas yang dimilikinya satu-satunya demi terwujudnya cita-cita anaknya sedangkan kakaknya menyumbangkan sedikit uang dari hasil kerjanya yang serabutan. Alhamdulillah, bangunan Majlis Taklim sudah berdiri walaupun masih banyak kekurangan, kalau musim hujan masih kehujanan air pada masuk ke Majlis, kalau lagi cuaca cerah disiang hari tidak sampai 25 menit para santri sudah pada banjir keringat  karena belum adanya  alas dan kipas angin di Majlis tersebut.

Supaya pendirian Majlis Taklim diakui oleh Pemerintah daerah setempat, Hikmat berikhtiar mengurus surat-surat dan perlengkapan yang dibutuhkan. Alhamdulillah pada tanggal 20 Februari 2015 SK Izin Operasional telah dikeluarkan oleh kementrian agama kota Cilegon dan nama yang didaftartarkan adalah “Majlis Taklim Nurul Hikmah”.
Hikmat menjelaskan pengertian singkat kenapa dinamakan Nurul Hikmah?
Nurul adalah cahaya sedangankan hikmah adalah kebijaksanaan atau manfaat dan sengaja namanya Hikmah supaya mirip-mirip nama pendirinya yaitu Ahmad Hikmatulloh, kelakarnya.

Banyak orang yang bilang mendirikan itu gampang yang sulit itu cara mempertahankannya, merekrut itu gambang tapi mempertahankan itu yang sulit. Perkataan itu bukanlah kalimat untuk menakut-nakuti karena memang kenyataannya sudah banyak buktinya. Namun sebagai umat Islam yang yakin akan pertolongan Allah, seharusnya tetap istiqomah dijalan-Nya tentunya harus dibarengi dengan usaha karena modal yakin saja tanpa dibarengi dengan usaha ibarat bermimpi disiang bolong atau halilintar dimusim kemarau.
Hikmat dalam kondisi tidak adanya pemasukan dibidang materi karena belum ada pekerjaan sampingan selain mengajar ngaji, ia tetap sabar berbagi ilmu kepada santri-santrinya.

Akan tetapi keberlangsungan suatu organisasi selain membutuhkan kesabaran dan  kesolidan dari para pengurusnya juga perlu adanya pemasukan dana untuk operasional agar organisasi itu tetap berjalan. Akhirnya diterapkanlah infak Rp. 10.000 perbulan kepada santri-santrinya. 
Hikmat berharap agar ada Donatur yang bersedia menyumbangkan sebagian hartanya kepada Majlis Taklim.

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon