6/26/2016

Pentingnya Niat Puasa


Ada orang berkata, Apalah arti sebuah ibadah jika tidak didasari niat. Perlu ditegaskan bahwa niat dan keinginan dan yakin itu mempunyai arti yg berbeda-beda.

Niat adalah maksud atau keinginan kuat di dalam hati untuk melakukan sesuatu. Dalam terminologi syar’i berarti adalah keinginan melakukan ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perbuatan atau meninggalkannya.

Perbuatan atau hal yg disebut niat itu terdiri dari 3 aspek yaitu :
  1. Diyakini dalam hati
  2. Diucapkan dengan lisan
  3. Diyakini dengan perbuatan

Berhubung ketiga hal tersebut adalah aspek yg membentuk kata niat, ketiganya itu perlu di lakukan. Mari ditelaah 1 per 1.

Sebagai manusia, kita harus yakin sebagai dasar melakukan sesuatu. Jika tidak yakin, jangan lah melakukannya. Karena hal itu termasuk gambling. keyakinan ada karena kita tau hal tersebut, ketidakyakinan hadir karena kita tidak tau. Tidak tau membuat kita menebak-nebak, dan itu jangan dilakukan. Balik ke niat, setelah yakin di dalam hati. Maka bisa dilakukan dengan secara lisan.

Hal yg kedua adalah diucapkan dengan lisan. Tutur kata itu lah yg dipegang oleh Allah, bukti bahwa kita memang benar2 berniat dalam hal melakukan itu.

Selanjutnya adalah mewujudkan kedua hal diatas menjadi dalam perbuatan, dalam kasus ini kan puasa, ya maka setelah berniat lakukanlah puasa.

Ketiga hal diatas saling terkait satu sama lain. Nah yg mau saya sampaikan adalah apalah arti orang yg berpuasa jika orang itu tidak berniat sebelum dia melakukan puasanya karena ketiduran.

Ini dasar teorinya

Dalam puasa Ramadhan, berniat hukumnya wajib. Tidak sah puasa seseorang jika tidak didahului atau dibarengi dengan niat. Dari Hafsah binti Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak berniat puasa (Ramadhan) sebelum terbit fajar maka ia tidak berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim).

Jumhur ulama berpendapat bahwa niat puasa Ramadhan harus dilakukan setiap hari karena masing-masing hari di dalam bulan Ramadhan otonom dan berdiri sendiri-sendiri, tidak saling terkait dengan hari berikutnya. Hal tersebut karena batalnya puasa kita hari ini tidak berarti batalnya puasa esok hari atau sebelumnya.

Sedangkan Madzhab Maliki berpendapat bahwa niat sekali untuk berpuasa satu bulan penuh sudah cukup, karena “setiap orang tergantung pada apa yang diniatkannya” (puasa sebulan penuh).

Di samping itu, karena satu bulan penuh di Ramadhan merupakan satu rangkaian ibadah puasa sehingga cukuplah satu niat yang mencakup keseluruhan sebagaimana niat haji dan shalat. Jika nanti di dalam pelaksanaannya terpaksa tidak puasa karena berhalangan, maka dengan memperbarui niat sudah dipandang cukup.



Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon