6/28/2016

Zakat dan Implikasinya Terhadap Bangsa dan Negara

Zakat dan Implikasinya Terhadap Bangsa dan Negara

Banyak masyarakat kurang memahami, bahwa zakat punya implikasi yang sangat dahsyat terhadap kehidupan masyarakat dan negara. Selama ini, pemahaman masyarakat khususnya masyarakat muslim  zakat hanya menyangkut urusan pribadi muslim, karena  menganggap hanya sesuatu hal yang  terkait dengan perintah Allah untuk dibayarkan atau ditunaikan dengan tujuan sosial untuk berbagi kepada fakir miskin dan duafa, tanpa melihat dampak lain yang lebih luas. Kalaupun ada,  sebagian masyarakat yang berpendapat bahwa zakat bisa berperan dalam mengangkat kesejahteraan ekonomi masyarakat, hanya dilihat dari satu sudut saja, yaitu menyangkut aspek ekonomi.


Padahal bila  diteliti lebih jauh, zakat punya filosofi yang sangat luas, terkait dengan banyak aspek yang dialami masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari.  Menurut hemat kami, masyarakat yang berbudaya dan berperadaban  tinggi dapat dilihat dari sejauh mana ibadah zakat itu terwujud dan terkelola dengan baik di lingkungan masyarakat itu sendiri. Sejarah sudah mencatat, bagaimana  khalifah Umar bin Abdul Azis sangat sukses memerintah negaranya, karena  sangat peduli terhadap ibadah zakat. Beliau berkeyakinan,   peduli dengan zakat sama halnya dengan kewajiban menegakkan  shalat. Terbukti, dimasa pemerintahan beliau tidak  dijumpai fakir miskin, rakyatnya makmur dan semuanya berzakat.

Sejatinya, zakat dan shalat punya kekuatan hukum dan fungsi yang setara dalam konteks menjadikan masyarakat yang lebih baik. Dalam kitab suci Al Quran banyak sekali kata-kata As-Shalah dan Az-Zakah itu digandeng, seperti tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kalau shalat bertujuan untuk mencegah manusia berbuat keji dan munkar, artinya terhindar dari kehidupan maksiyat dan dosa, sedangkan zakat untuk menjaga agar harta yang dimiliki suci, tidak tercampur dari hal-hal yang syubhah (abu-abu)  dan haram, untuk membersihkan jiwanya,  bersih dari sifat-sifat negatif dan kotor seperti sifat kikir dan sombong,  dan juga untuk mendapatkan  keberkahan Allah dalam hidup ini.

Maka kewajiban menunaikan  zakat sama kuatnya dengan kewajiban menegakkan shalat, bahkan seorang muslim yang tidak menunaikan zakat belum sempurna Islamnya, dan tidak akan mencapai kesempurnaan dan kesuksesan dalam hidupnya. Oleh karena itu, berzakat sudah menjadi kebutuhan individu dan masyarakat agar terhindar dari ketidak normalan hidup.

Setiap orang atau anggota masyarakat sangat mengimpikan akan masyarakat yang terbaik, yaitu masyarakat yang harmonis, berakhlak mulia, rukun, damai, komunikatif,  masyarakat yang taat menjalankan ibadah dan keyakinannya. Masyarakat yang berkemajuan, yakni masyarakat  yang selalu mengadakan perubahan,  tidak puas dengan yang ada, tidak statis tetapi senantiasa bergerak kedepan,  melahirkan inovasi-inovasi. Masyarakat yang berbudaya  tinggi, artinya masyarakat yang kaya dengan karya-karya dan norma-norma tata krama yang santun. Masyarakat yang terdidik, cerdas menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat yang produktif, kreatif,  kayaraya dan sejahtera.

Masyarakat semacam itu, dipimpin oleh pemimpin yang punya wawasan kenegaraan, pemimpin yang berakhlak mulia, taat beragama, cerdas, tegas dan adil tentunya. Pemimpin seperti ini, akan dihormati dan menjadi panutan rakyat dan masyarakatnya. Instruksi dan perintahnya akan menjadikan sabda. Inilah pemimpin idaman yang membawa harkat masyarakat dan bangsanya terangkat. Yang dapat menjadikan negara ini punya wibawa dan harga diri dimata bangsa-bangsa lain di dunia ini. Dalam Islam, negara yang demikian sudah dilukiskan dalam Al Quranul Karim, yaitu Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur, Negara yang makmur, damai, sejahtera dan dibawah lindungan Allah SWT.


Masyarakat yang diimpikan tersebut, bisa diwujudkan asal  didukung oleh beberapa faktor, antara lain ; pertama bagaimana kualitas kehidupan spiritual atau keberagamaannya. Dalam masyarakat muslim, tentunya diukur dengan ketaatan menjalankan serta menghidupkan perintah Allah SWT, seperti kualitas shalatnya, kualitas pelaksanaan puasanya, kualitas pelaksanaan danpengelolaa zakatnya, dan haji. Kedua, faktor sarana dan prasarana  kehidupan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Ketiga, faktor ekonomi, yaitu adanya jiwa dagang dalam setiap individu. Keempat, Situasi politik yang kondusif. Kelima, Kepedulian pimpinannya kepada anggota masyarakat atau rakyatnya.

Diantara faktor-faktor pendukung yang disebutkan itu, menurut kami faktor penentu adalah sisi kualitas ibadah masyarakatnya, terutama shalat, selain itu adalah ibadah zakatnya.  Ibadah zakat sangat berperan untuk menupang masyarakat ideal tersebut,  begitu pula dalam mengangkat  harkat dan marwah suatu bangsa dan  negara, karena zakat mempunyai multi efek kesegala aspek kehidupan. Zakat yang dikelola dengan baik akan menghantarkan masyarakat dan negara ke level  Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Allah SWT berfirman dalam  Al Quran, Surat At-Taubah ayat : 103,  Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan harta mereka, dan mensucikan mereka dan doakanlah mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dalam ayat tersebut Allah menyatakan, bahwa untuk menegakkan zakat itu harus dengan power atau kekuasaan, bagi orang yang berzakat {Muzakki} akan memperoleh beberapa manfaat, yaitu hartanya menjadi suci, jiwanya akan bersih dari kotoran, jiwanya akan tenteram, didoakan oleh amil atau petugas zakat.

Masyarakat atau anggotanya yang mau menunaikan zakat dan mau mengelolanya dengan baik, mereka akan mendapatkan berkah kehidupan dari Allah SWT, karena mereka  secara sadar sudah menjalankan perintah Allah SWT, yaitu perintah membayarkan zakat, menolong orang yang membutuhkan, menghilangkan gap antara orang kaya dan miskin, mengangkat harga diri orang miskin atau duafa, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menghidupkan dakwah Islamiyah, menghidupkan sinar ilmu pengetahuan, menciptakan lapangan kerja dan usahawan-usahawan baru, menyelamatkan hartabendanya dari bencana yang tidak halal, menghilangkan  system riba, menghilangkkan penyakit sangat berbahaya,  yaitu sifat hasad, dengki, kikir, loba, tamak dan rakus.

Ditambah lagi, masyarakat tersebut akan memiliki jiwa yang bersih, tenang, jauh dari kegelisahan, dan memberikan efek kepadanya  untuk berfikir positif dan optimis. Cenderung untuk selalu taat kepada Allah SWT dan RasulNya, satu sama lain saling mendoakan supaya senantiasa mendapatkan kehidupan yang baik dan  terhindar dari keburukan bencana dan bala.

Namun, untuk menghidupkan kegiatan zakat itu perlu adanya campur tangan negara, yang punya power. Keikut sertaan negara sangat diperlukan. Di negara yang kita cintai ini, kepedulian pemerintah sudah cukup bagus, yaitu adanya payung hukum Undang Undang Pengelolaan Zakat, Nomor 23 Tahun 2011, Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2014 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat,  dan Inpres No. 3 Tahun 2014 Tentang Optimalisasi Pengumpulan Zakat di Kementerian / Lembaga, Sekretariat Jenderal Lembaga Negara, Sekretariat Jenderal Komisi Negara, Pemerintah Daerah, Badan Usaha Milik Negara, Dan Badan Usaha Milik Daerah Melalui Badan Amil Zakat.

Namun, sanksi bagi orang kaya atau muzakki yang tidak mau menunaikan zakatnya belumlah ada. Kewajiban membayarkan zakat belum disamakan dengan kewajiban membayar pajak, Hal itu terlihat sangat jelas dalam Undang-Undang tentang  sanksi hukum yang diberikan.

Akhirnya, menurut kami, apabila pemerintah ingin menciptakan masyarakat  yang adil, makmur, damai, dan mendapat keberkahan serta perlindungan Allah SWT, terhindar dari bala dan musibah yang tidak diinginkan, maka sudah menjadi keharusan untuk proaktif menghidupkan ibadah zakat dan shadaqah di negeri yang tercinta ini.  Wallahu A’lam Bishshawab,

sumber: Baznas
sumber gambar: www.google.co.id

1 comments:

Semangat Terus Para Amil di Rumah Zakat Semoga Ada keberkahan, Mantap...

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon