7/26/2016

Al-Qur'an Sebagai Obat Segala Penyakit

Al-Qur'an Sebagai Obat Segala Penyakit
www.rumahzakat.org

Perbincangan mengenai al-Quran sebagai syifâ’ (obat atau penawar) terhadap penyakit, hingga saat ini masih menjadi perbicangan yang menarik. Apalagi, ketika wacana itu dilanjutkan dengan fungsinya (al-Quran) sebagai rahmat (karunia) Allah.

Benarkah al-Quran itu memiliki kegunaan yang seperti itu, dan apakah nilai kegunaannya bersifat mutlak atau relatif? Inilah yang kemudian memicu para mufassir (para tafsir) al-Quran untuk menjelaskannya dengan berbagai ragam pendekatan dan metodenya. Tetapi, ketika kita cermati, semuanya bermuara pada satu pendapat, bahwa efektivitas kegunaan al-Quran sebagai syifâ’ danrahmah sangat bergantung pada manusia yang mengharapkannya.

Apakah yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan utama untuk memerolehnya? Semakin terpenuhi persyaratan utamanya, maka semakin mungkin seseorang akan memeroleh syifâ’ dan rahmah dari Allah, begitu juga sebaliknya. Apakah persyaratan utamanya? Jawabnya tegas, yaitu: “Iman”. “Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS al-Isrâ’/17: 82)

Obat (penawar). Obat yang dimaksud dalam ayat ini meliputi obat atas segala penyakit, baik ruhani maupun jasmani dengan spesifikasi tertentu, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tafsirnya.

Rahmat di dalam ayat ini dipahami sebagai bantuan dari Allah, sehingga ketidakberdayaan dalam bentuk apa pun tertanggulangi. Rahmat Allah yang dilimpahkan kepada umat Islam adalah kebahagiaan hidup sebagai akibat dari ridha-Nya, termasuk di dalamnya kehidupan di akherat kelak. Oleh karena itu jika al-Quran dipahami sebagai rahmat bagi umat Islam, maka maknanya adalah limpahan karunia berupa kebajikan dan keberkatan yang disediakan oleh Allah bagi mereka (umat Islam) yang memhami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang diamanatkan oleh Allah dalam al-Quran.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa sesungguhnya al-Quran itu merupakan obat (penawar) dan rahmat bagi kaum yang beriman. Bila seseorang mengalami keraguan, penyimpangan dan kegundahan yang terdapat dalam hati, maka al-Quran-lah yang menjadi obat (penawar) semua itu. Di samping itu al-Quran merupakan rahmat yang membuahkan kebaikan dan mendorong untuk melakukannya. Kegunanaan itu tidak akan didapatkan kecuali bagi orang yang mengimani (membenarkan) serta mengikutinya.

Bagi orang yang beriman, al-Quran akan berfungsi menjadi obat (penawar) dan – sekaligus – rahmat baginya. Adapun bagi orang kafir, maka tatkala mereka mendengarkan dan membaca ayat-ayat al-Quran, tidaklah bacaan ayat-ayat al-Quran itu tidak akan berguna bagi mereka, bahkan akan semakin jauh dan semakin bersikap kufur, karena hati mereka telah tertutup oleh dosa-dosa yang mereka perbuat. Dan yang menjadi sebab bagi orang kafir menjadi semakin jauh dari kesembuhan dari penyakit dan rahmat Allah itu bukanlah karena (kesalahan) bacaan aya-ayat (al-Quran)-nya, tetapi karena (disebabkan oleh) sikap mereka yang salah terhadap al-Quran. Sebagaimana firman Allah Subhanâhu wa Ta’âla: “Katakanlah: Al-Quran itu adalah petunjuk dan obat (penawar) bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan sedang al-Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS Fushshilat/41: 44).

Dan Allah Subhânahu wa Ta’âla juga berfirman,“Dan apabila diturunkan suatu surat maka di antara mereka ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah iman dengan surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman maka surat ini menambah iman sedang mereka merasa gembira. Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka di samping kekafiran dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS at-Taubah/9: 124-125).

Obat (penawar) yang terkandung dalam al-Quran bersifat umum, meliputi obat (penawar) hati dari berbagai syubhat kejahilan berbagai pemikiran yang merusak penyimpangan yang jahat dan berbagai tendensi yang batil. Ia merupakan pemberi nasihat serta peringatan. Di samping itu al-Quran juga menjadi obat jasmani dari berbagai macam penyakit, melalui terapi spiritual yang bisa berdampak pada orang-orang yang beriman karena pengaruh (sugesti) yang diakibatkan oleh keyakinan mereka. Karena yang dimaksud penyakit jasmani di sini, bukanlah penyakit fisik (murni), tetapi penyakit yang di dalam istilah kedokteran dikenal dengan sebutan psikosomatik. Misalnya: “penyakit sesak nafas atau dada bagaikan tertekan karena adanya ketidakseimbangan ruhani”. Dalam hal ini dokter bisa menyarankan kepada pasien muslim untuk membaca ayat-ayat al-Quran untuk memberikan sugesti agar pasien merasa tenang dan nyaman, sehingga secara kejiwaan terbantu untuk melakukan pengobatan pada dampak fisiknya.

Adapun rahmat yang disebut di dalam ayat itu, dimaksudkan sebagai karunia Allah yang bisa diraih oleh setiap orang yang beriman dengan cara membaca, memahami, menghayati dan mengamalkna isi al-Quran. Maka sesungguhnya di dalam bacaan ayat-al-Quran itu sebab- terkandung sebab dan sarana untuk meraihnya. Kapan saja seseorang melakukan sebab-sebab atau saranya itu, maka dia akan beruntung dengan bukti nyata “meraih rahmat dan kebahagiaan yang abadi serta ganjaran kebaikan dari Allah, cepat atau pun lambat.”

Dalam hal ini para ulama menukilkan dua pendapat: Ada yang mengkhususkan penyakit hati dan ada pula yang menyebutkan penyakit jasmani dengan cara meruqyah ber-ta’awudz dan semisal dengannya. Ikhtilaf ini disebutkan al-Qurthubi dalam kitabnya: “Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qurân”.

Asy-Syaukani dalam kitab Fathul Qadîr, menyatakan, “Dan tidak ada penghalang untuk membawa ayat ini kepada dua makna tersebut.” Pendapat ini semakin ditegaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Zâdul Ma’âd: “Al-Quran adalah obat (penawar) yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah tiap orang diberi keahlian dan taufiq untuk menjadikan sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengan dan meletakkan pada penyakit yang dideritanya dengan penuh kejujuran dan keimanan, berupa penerimaan yang sempurna dan keyakinan yang kokoh dan menyempurnakan syarat-syaratnya, niscaya penyakit apa pun akan menjadi tawar (sembuh) karena kehendak-Nya.

Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi kehendak Dzat yang memiliki langit dan bumi (Allah) yang telah menciptakannya. Jika diturunkan kepada gunung maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi maka ia akan membelahnya. Maka tidak satu pun jenis penyakit baik penyakit hati maupun jasmani melainkan dalam al-Quran ada cara yang membimbing untuk berobat dan dan menghilangkan sebab-sebab yang mengakibatkan terjadinya.

Sebagaimana yang bisa dipahami dari firman Allah, berkenaan dengan sikap Nabi Ibrahim a.s, “Dan apabila aku (Ibrahim) sakit, Dia (Allah)-lah yang menyembuhkan diriku.” (QS asy-Syu’arâ’/26: 80).
Inilah – yang oleh para pakar tafsir – disebut sebagai sikap tawakkal dari seorang hamba (yang direpresentasikan oleh Nabi Ibrahim a.s.). Ketika dirinya sakit, dia yakin bahwa Allahlah yang berkuasa untuk memberikan kesembuhan. Sehingga, semua obat (penawar) tidak akan bermakna apa pun tanpa ridha Allah.

Beberapa riwayat berkenaan tentang pengobatan dengan (media/sarana) al-Quran. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan Bukhari dalam Shahih al-Bukhâriy dari Abu Sa’id Al-Khudriy r.a.. Beliau berkata,“Ada rombongan beberapa orang dari sahabat Nabi s.a.w. yang bepergian dalam suatu perjalanan hingga ketika mereka sampai di salah satu perkampungan Arab, penduduk setempat mereka meminta agar bersedia menerima mereka sebagai tamu penduduk tersebut, namun penduduk menolak.

Kemudian kepala suku kampung tersebut terkena sengatan binatang lalu diusahakan segala sesuatu untuk menyembuhkannya namun belum berhasil. Lalu diantara mereka ada yang berkata: “Coba kalian temui rombongan itu semoga ada diantara mereka yang memiliki sesuatu. Lalu mereka mendatangi rombongan dan berkata: “Wahai rombongan, sesunguhnya kepala suku kami telah digigit binatang dan kami telah mengusahakan pengobatannya namun belum berhasil, apakah ada di antara kalian yang dapat menyembuhkannya?” Maka berkatalah seorang dari rombongan itu: “Ya, demi Allah aku akan mengobati, namun demi Allah kemarin kami meminta untuk menjadi tamu kalian, namun kalian tidak berkenan. Maka aku tidak akan menjadi orang yang mengobati kecuali bila kalian memberi upah.

Akhirnya mereka sepakat dengan imbalan puluhan ekor kambing. Maka dia berangkat dan membaca Alhamdulillâh rabbil ‘âlamîn (QS al-Fâtihah) seakan penyakit lepas dari ikatan tali padahal dia pergi tidak membawa obat apapun. Dia berkata: “Maka mereka membayar upah yang telah mereka sepakati kepadanya. Seorang dari mereka berkata: “Bagilah kambing-kambing itu!” Maka orang yang mengobati berkata: “Jangan kalain bagikan hingga kita temui Nabi s.a.w., lalu kita ceritakan kejadian tersebut kepada Beliau (Nabi) s.a.w., dan kita tunggu apa yang akan Beliau perintahkan kepada kita”. 

Akhirnya rombongan itu pun menghadap Rasulullah s.a.w., lalu mereka ceritakan peristiwa tersebut. Beliau pun berkata: “Kamu tahu dari mana kalau al-Fâtihah itu bisa sebagai ruqyah (obat)?” Kemudian Beliau melanjutkan: “Kalian telah melakukan perbuatan yang benar, maka bagilah upah kambing-kambing tersebut dan masukkanlah aku dalam sebagai orang yangmenerima upah tersebut”. Maka Rasulullah s.a.w. pun tertawa.”(HR Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudriy, Shahîh al-Bukhâriy, III/121, hadits no. 2276)


Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon