7/16/2016

Siapa Menanam Dia yang Menuai

www.rumahzakat.org
Kita pasti pernah mendengar peribahasa ini, “Siapa menanam, pasti dia yang akan menuai.” Maksudnya, jika seseorang menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan pula. Dan jika seseorang

vang menanam kejelekan, maka ia akan menuai hasil yang jelek pula. Berikut beberapa contoh dalam Al-Qur’an dan Hadist yang menceritakan maksud dari peribahasa ini. “Menjaga hak Allah, Menuai penjagaan Allah”

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengajarkan pada Ibnu ‘Abbas sebuah kalimat, “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” Artinya, menjaga batasn-batasan, hak-hak, perintah, dan larangan-larangan Allah. Yaitu, seseorang menjaganyadengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batasdari batasan-Nya (berupa perintah maupun larangan Allah). Yang utama untuk dijaga adalah shalat lima waktu (wajib). Selain itu, yang patut dijaga adalah pendengaran, penglihatan, dan lisan dari berbagai keharaman. Begitu pula yang mesti dijaga adalah kemaluan.

Barangsiapa menjaga diri dengan melakukan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan mendapatkan dua penjagaan. Yakni, Allah akan menjaga urusan dunianyam yaitu ia akan mendapatkan penjagaan diri, anak, keluarga dan harta. Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Barang siapa menjaga (hak-hak) Allah, maka Allah akan menjaganya dari berbagai gangguan, itu berarti telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. Allah sama sekali tidak butuh padanya.”

Selain itu, Allah akan menjaga agama dan keimanannya. Allah akan menjaga agama dirinya dari pemikiran rancu yang bisa menyesatkan dan dari berbagai syahwat yang diharamkan.

Berlaku Jujur, Menuai Kebaikan

Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika sesorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.

Terkhusus lagi, beliau memerintahkan kejujuran ini pada pedagang karena memang kebiasaan para pedagang adalah melakukan penipuan dan menempuh segala cara demi melariskan berang dagangan.
Berlaku jujur juga akan menuai berbagai keberkahan. Yang dimaksud keberkahan adalah tetapnya dan bertambahnya kebaikan. Dari sahabat Hakim bin Hizam, Nabi SAW bersabda yang artinya, “Kedua orang penjual dan pembali masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang,maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu.”

Mudah Memaafkan, Menuai Kemuliaan

Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah tidak mungkin mungurangi harta. Tidaklah seseorang suka memaafkan, melainkan ia akan semakin mulia. Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ (rendah diri) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.”

Seseorang yang selalu memaafkan akan semakin mulia dan bertambah kemuliaannya. Ia juga akan mendapatkan balasan dan kemuliaan di akhirat.

Menolong Sesama, Menuai Pertolongan dari Allah

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hambanya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”

Diantara bentuk pertolongan disini adalah seseorang memberikan kemudahan dalam masalah untung.ini biasa dilakukan dengan dua cara. Pertama, mamberikan tenggang waktu pelunasan dari tempo yang diberikan, ini hukumnya wajib. Karena Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” (QS. Al-Baqarah : 280). Kedua, dengan memutihkan hutang tersebut, dan ini di anjurkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-baqarah : 280)

Berkebalikan dari sikap baik ini adalah mengenakan riba pada saudaranya yang menunda hutang. Ini adalah berkebalikan dari memberi kemudahan. Maka tentu saja orang yang memberi kesulitan pada saudaranya akan menuai hasil yang sebaliknya.

Berbuat Curang, Menuai Musibah

Nabi SAW bersabda,”Dan tidaklah mereka berbuat curang ketika menakar dan menimbang melainkan mereka akan ditimpa kekeringan, mahalnya biaya hidup dan kezdaliman para penguasa.”
Sebab curang dalam perniagaan inilah sebab dibinasakannya kaum Madyan, umat Nabi Syu’aib AS. Allah Ta’ala memerintahkan pada kaumnya Madyan, “Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya. Dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS. Asy_Syu’ara : 181-183)

Jadi ingatlah, setiap yang kita tanam baik kebaikan maupun kejelekanpasti kita akan menuai hasilnya. Oleh karenanya, bersemangatlah dalam menanam kebaikan dan janganlah pernah mau menanam kejelekan.

Sumber : muslim.or.Id


Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon