8/19/2016

Agar Hati Tidak Mati

Agar Hati Tidak Mati
www.rumahzakat.org

Jiwa yang gersang, hati yang hilang kepekaan, dan mata yang kering akan air mata berarti ada Hak Allah yang belum kita tunaikan. Mungkin ada cinta kita pada Allah yang belum tersambungkan, ruhiyah kita belum dekat dengan Tuhannya. Mata kita tidak pernah menangis untuk betul-betul menghambakan kepada Allah. “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa ( mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun.” (QS. Az Zumar: 2)

Meneteskan air mata adalah kodrat manusia. Ada banyak sebab yang menjadikannya menangis; gembira, sedih, takut, haru, rindu dan banyak lagi sebab yang lain. Namun Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan ada lebih dari sepuluh air mata, namun hanya ada satu air mata yang terbaik; air mata yang menetes karena takut kepada Allah. Dia merupakan indikasi kematangan iman. Dan Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk neraka laki-laki yang menangis karena takut kepada Allah, hingga air susu kembali ke kambingnya.”(HR. Tirmidzi)

Tapi terkadang kita lupa kapan terakhir kita menangis bersimpuh dalam sujud kita, dalam munajat kita kepada Allah. Hingga hati ini menjadi gersang, ruhiyah ini terasa kurang air. Apalagi dosa dan kesalahan itu yang akan selalu membakar diri ini, dengan apa api itu akan kita padamkan jika diri ini tidak pernah dekat dengan Allah? Tidak pernah ada air mata penghambaan diri ini kepada-Nya?

Keangkuhan, kesombongan dan jauhnya kita dari Allah akan membuat diri semakin gersang dan hati semakin kering kerontang. Padahal dosa dan kesalahan itu meninggalkan luka yang semestinya mampu membuat kita menangis, seperti para salafushalih dalam setiap kekhilafan yang mereka lakukan.

Dikisahkan suatu hari Sufyan Ats Tsauri terlihat menangis dan cemas. Melihat hal itu, salah seorang sahabatnya berkata, “Tetaplah engkau berharap kepada Allah. Ampunan Allah lebih besar dari dosa-dosamu.” Lalu Sufyan Ats Tsauri menjawab, “Tidak bolehkan aku menangisi dosa-dosaku? Jika saja aku telah mengetahui bahwa aku akan mati dalam keadaan tetap mengesakan Allah, maka aku tidak akan peduli dengan dosa-dosaku yang sebesar gunung-gunung itu.”

Menangislah kita di sini, di dunia ini karena dosa-dosa. Karena hanya di sini tangisan dan tetesan airmata itu bermanfaat. Dan kita berlindung kepada Allah dari nasib orang yang banyak tertawa di dunia ini dengan dosanya, sementara di akhirat menangis karena memohon ampun atas dosanya.

Pernah suatu hari di jumpai Rasulullah sedang menangis. Melihat beliau para sahabat pun, bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Aku rindu kepada saudara-saudaraku!”

“Bukankah kami ini saudaramu, wahai rasulullah,” sergah para sahabat beliau.”Bukan. Kalian adalah sahabatku. Sedangkan saudara-saudaraku adalah kaumku yang akan datang setelah (kepergian)ku, mereka beriman kepadaku dan tidak pernah melihatku,” tegas beliau (Sirah Ibnu Hisyam).

Rasulullah telah menitikkan air mata karena rindunya beliau kepada umatnya yang tak pernah dilihatnya namun beriman kepadanya. Namun pernahkah kita membalas kerinduan itu dengan deraian air mata? Adakah deraian air mata karena ingin berjumpa dengan beliau?

Bahkan Mikail pun tidak pernah tersenyum sejak api neraka di ciptakan oleh Allah. Dari sahabat Anas bin Malik ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bertanya kepada malaikat jibril, ”kenapa aku tidak pernah melihat Malaikat Mikail tertawa sama sekali?” Jibril menjawab, “Mikail sudah tidak pernah tertawa sejak api neraka diciptakan.”

Neraka memang tidak hanya api, tapi juga ada dingin. Namun dingin yang membinasakan. Simaklah sabda Rasulullah saw berikut ini, “Neraka mengadu kepada Tuhannya, lalu ia berkata:” Ya Rabbi, bagian tubuhku memakan antara satu dan yang lainnya, maka berikanlah aku nafas. Lalu Allah memberikannya dua nafas; satu nafas di musim dingin dan satu nafas di musim panas. Maka kalian akan menjumpai panas yang sangat luar biasa dari teriknya, dan dingin yang sangat luar biasa dari udaranya (yang amat dingin).”HR. Bukhori

Mungkin kita sudah lama tidak menangis mengingat panasnya api neraka, dahsyatnya panas dan dinginnya di dalamnya. Semoga Allah menjernihkan kembali hati dan jiwa kita. Hingga mampu menitikkan kembali air mata penuh rasa takut dan penuh penghambaan diri ini kepada Tuhannya.

Terkadang air mata ini tertahan karena penghalang yang lahir dari kesalahan dan dosa kita, kelalaian kita hingga membentuk noktah hitam dalam hati kita yang membuat hati kita tertutup dan beku karena hilangnya cahaya Allah.

Salah satu penyebab hilangnya cahaya Allah ini adalah karena jarang bersentuhan dengan Al Qur’an. Rasulullah bersabda,” sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana hati berkarat.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pembersihnya?” Beliau menjawab, “Mengingat mati dan banyak membaca Al Qur’an.”

Mari jadikan Al-Quran sebagai sahabat dengan senantiasa membaca dan memahaminya. Semoga dengan begitu hati kita tidak mati sehingga tidak bisa merasakan lagi kenikmatan rasa rindu dan takut kepada Allah.

www.rumahzakat.org


Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon