9/07/2016

Senyumin Dan Maafin Aja


Memaafkan adalah memberi pengampunan atas kesalahan yang dilakukan orang lain. Memaafkan (megampuni) yang bersalah kepada kita, yang telah menyakiti hati dan perasaan kita, adalah bentuk pemahaman yang sangat mendalam akan dirinya sebagai manusia ciptaan Tuhan.

Senyumin Dan Maafin Aja
www.rumahzakat.org

Memaafkan tanpa syarat, hanya bisa datang dari bathin yang bersih, orang yang bathinnya kotor dan terguncang tidak akan dapat memaafkan tanpa syarat. Meminta maaf secara tulus hanya bisa datang dari bathin yang teguh, orang yang bathinnya lemah dan terguncang tidak akan dapat meminta maaf secara tulus. Tak ada syarat untuk memperoleh pengampunan Allah, karena maaf dari-Nya adalah sebuah anugerah yang mudah. Memaafkan tanpa syarat selalu membuat hidup kita menjadi lebih damai dan lebih bahagia.

Memaafkan Dengan Suka Cita. Ketika seseorang dengan suka cita (ikhlas) memaafkan orang berbuat salah kepadanya, dia tidak akan meminta imbalan, tidak akan menuntut balas budi.

Dengan memaafkan kesalahan orang yang menyakiti hati dan perasaan kita, maka hubungan kita dengan orang berbuat salah akan baik, hidup kita akan bahagia. Orang yang melakukan kesalahan tersebut akan merasa bahwa kita teman atau saudaranya bukan lawan (musuh).

Memaafkan Dengan Suka Cita, akan membuat kehidupan menjadi santai, cerah, ceria, hidup wajar, dan berpengharapan. Memaafkan, juga menjadikan relasi antar manusia berjalan lebih baik, tidak ada dendam, kemarahan, kekakuan atau ketegangan. Memaafkan, tentu membutuh pikiran positif. Sebab akan sulit sekali bagi seseorang untuk memaafkan jika didalam dirinya masih tersimpan dendam, tidak menerima alasan kesalahan orang berbuat salah.

Memaafkan adalah titik akhir dari perasaan dendam dan amarah di dalam hati kita. (Moch. Fakhruroji; Total Forgiveness) Memaafkan, tidak hanya pada orang lain, tetapi memaafkan diri sendiri. Tidak sedikit diantara kita berbuat salah, tidak sengaja berbuat salah, sehingga merugikan kita atau orang lain. Sering sulit memaafkan diri kita. Sering terjadi menyalahkan diri sendiri. Bisa memaafkan orang lain, tetapi tidak bisa memaafkan diri sendiri.

Memaafkan, bukan berarti mentoleransi hukum yang ada. Memaafkan bukan berarti tidak melaksanakan hukum yang berlaku. Memaafkan bukan berarti kita setuju dan membenarkan tindakan orang yang menyakiti, tidak berarti membenarkan orang berbuat salah baik sengaja , tidak senagaj atau lalai, atau membenarkan kesalahannya.

Mamaafkan adalah Kesehatan: Gerarld Jampolsky (2001) seorang psikiatris ternama mengingatkan, saat rela memaafkan, sebenarnya kita menolong diri kita sendiri untuk merasakan kedamaian dan rasa berkasih sayang. Amarah memercikkan bara yang membuat kita mencari alibi pembenaran balas dendam, terpaku pada kebencian.

Penelitian menunjukkan, pasien yang menyimpan amarah dan kebencian dalam dirinya berpotensi memiliki berbagai penyakit seperti sakit kepala, stress, sakit perut, ketegangan otot dan serangan fisik lainnya sebagai wujud energi negatif yang terkumpul dalam raga sebagai penyakit. Prof. Petro Petrini Seorang neorolog di Fakultas Kedokteran Universitas of Pisa, Italia, meneliti pengaruh sikap memaafkan dan toleran terhadap kinerja otak.

Dia ingin membuktikan bahwa sikap memafkan dan toleran mampu membuat kondisi kesehatan menjadi lebih baik Dengan demikian, memaafkan kesalahan orang lain dan menerimanya kembali adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pengampunan yang sejati mengandung penerimaan yang total; penerimaan yang sejati mengandung pengampunan yang sepenuhnya. Pengampunan tanpa penerimaan kembali sebenarnya bukanlah pengampunan.

Penulis: Nelson Sitinjak
Sumber: FP Rumah Zakat


Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon