6/06/2017

Bagaimana Kriteria Disebut Anak Yatim?



Oleh: Ust. Dzulqarnain M. Sunusi

Tanya: Siapa sajakah sebenarnya yang bisa digolongkan sebagai anak yatim itu? Apakah seorang perempuan yang sudah akil baligh dan berumur di atas 20 tahun tapi belum menikah masih bisa disebut anak yatim? Lalu bagaimana dengan seorang anak yang orang tuanya masih ada tetapi bapaknya tidak pernah menafkahi dan bertanggung jawab terhadap dirinya dan anak itu juga terlantar bisa disebut anak yatim? Demikian pertanyaan. Syukran.

Jawab:
Ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan,

Pertama, dalam definisi ahli fiqih, yatim adalah anak yang meninggal ayahnya sebelum baligh. Adapun setelah baligh, seorang tidak lagi disebut sebagai anak yatim berdasarkan hadits,
ﻟَﺎ ﻳُﺘْﻢَ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﺣْﺘِﻠَﺎﻡٍ
“Tidak ada keyatiman setelah mimpi basah.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Irwâ`ul Ghalîl no. 1244)

Kedua, definisi yang tersebut di atas adalah patokan dalam pembahasan anak yatim dalam syari’at kita. Bukan definisi dalam bahasa Indonesia yang menyebutkan bahwa yatim adalah tidak beribu atau tidak berayah lagi (karena ditinggal mati). Sedang piatu adalah sudah tidak berayah dan beribu lagi.”

Ketiga, apabila anak yatim telah baligh, dia tidaklah lagi disebut yatim. Demikian pula hukum-hukum yang berkaitan dengan anak yatim tidak lagi berlaku padanya.

Keempat, anak yatim yang telah baligh dan belum memiliki kemampuan, terhitung dalam golongan orang-orang faqir atau miskin.

Kelima, tidak masalah memberi seorang anak yang kedua orang tuanya masih hidup dan tidak memiliki kemampuan. Pemberian tersebut terhitung sedekah atau zakat, tapi tidak berkaitan dengan anak yatim.

Wallahu A’lam.

Sumber: http://dzulqarnain.net

Semoga Sobat hari ini lebih baik dari kemarin, jika ada yang ingin ditanyakan terkait program RZ Cilegon, silahkan isikan komentar dibawah ini
EmoticonEmoticon